Wynton Rufer merupakan salah satu penyerang paling ikonik yang pernah dilahirkan oleh dunia sepak bola Selandia Baru. Lahir di Wellington pada 29 Desember 1962, perjalanan kariernya membentang dari Liga Selandia Baru hingga panggung tertinggi sepak bola Eropa di Bundesliga Jerman.
Namanya mulai melambung ketika ia merantau ke Eropa dan menghabiskan sebagian besar karier profesionalnya di Swiss serta Jerman. Puncak kejayaannya diraih saat berseragam Werder Bremen di bawah asuhan pelatih legendaris Otto Rehhagel pada era 1990-an.
Related Stories
Update Berita Olahraga Terkini dari Nysha Lilly
Dapatkan informasi terbaru seputar Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, dan berita sepak bola internasional langsung di inbox Anda. Gratis!
SubscribeBersama Werder Bremen, Rufer sukses mempersembahkan total empat gelar mayor, termasuk trofi Bundesliga dan Piala Winners UEFA. Ketajamannya di lini depan juga membawanya keluar sebagai pencetak gol terbanyak Liga Champions UEFA pada musim 1993-1994.
Tidak hanya bersinar di level klub, Rufer juga menjadi bagian penting dari sejarah Timnas Selandia Baru saat pertama kali tampil di ajang Piala Dunia FIFA 1982 di Spanyol. Kontribusi dan konsistensinya membuat ia dinobatkan sebagai Pemain Abad Ini di Oseania.
Perjalanan Karier Gemilang dan Prestasi Eropa
Setelah gantung sepatu, pengabdian Rufer bagi dunia sepak bola terus berlanjut melalui peran pelatih dan pendirian akademi sepak bola. Warisan dan pengaruhnya di kancah sepak bola internasional tetap dikenang hingga kini sebagai inspirasi bagi generasi muda.
Karier profesional Wynton Rufer di Eropa dimulai setelah ia sempat kesulitan mendapatkan izin kerja di Inggris usai trial bersama Norwich City. Ia kemudian memutuskan pindah ke Swiss dan memperkuat FC Zurich pada tahun 1982.
Selama bermain di Swiss, ketajamannya terbukti luar biasa dengan mencetak lebih dari 100 gol, termasuk saat membela FC Aarau dan Grasshoppers. Konsistensi penampilan tersebut yang akhirnya memikat hati klub Jerman, Werder Bremen, pada musim panas 1989.
Duet mautnya bersama Klaus Allofs di lini serang Werder Bremen menjadi momok bagi lini pertahanan lawan di kompetisi domestik maupun Eropa. Puncaknya terjadi ketika ia berbagi gelar top skor Liga Champions UEFA bersama bintang Barcelona, Ronald Koeman, pada musim 1993-1994.