The Hand of God atau "tangan Tuhan" menjadi istilah yang abadi dalam dunia sepak bola untuk menggambarkan gol ilegal Diego Maradona saat Argentina bersua Inggris di perempat final Piala Dunia 1986. Gol tersebut disahkan wasit meski jelas-jelas tercipta berkat sentuhan tangan kiri sang bintang Argentina, yang membuat bola melambung melewati jangkauan kiper Inggris, Peter Shilton.
Momen krusial itu terjadi saat babak kedua baru berjalan enam menit. Maradona berduel udara dengan Peter Shilton dan menggunakan tinjunya untuk memasukkan bola ke gawang. Maradona kemudian merayakan gol tersebut dengan tenang sembari melirik wasit dan hakim garis untuk memastikan gol itu sah, meskipun tindakan tersebut menuai protes keras dari para pemain Inggris.
Related Stories
Update Berita Olahraga Terkini dari Nysha Lilly
Dapatkan informasi terbaru seputar Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, dan berita sepak bola internasional langsung di inbox Anda. Gratis!
SubscribeIstilah "tangan Tuhan" sendiri muncul dari jawaban Maradona saat ditanya perihal gol tersebut. Ia berkelakar bahwa gol itu tercipta "sedikit dengan kepala Maradona dan sedikit dengan tangan Tuhan". Belakangan, legenda sepak bola tersebut mengakui bahwa ia memang melakukan pelanggaran dan menganggap gol itu sebagai "balas dendam simbolis" atas kekalahan Argentina dalam Perang Falklands melawan Inggris pada 1982.
Meski penuh kontroversi, gol tersebut tetap dicatat dalam sejarah sebagai salah satu kejadian paling fenomenal. Bahkan, kostum yang dikenakan Maradona dalam laga itu terjual dalam sebuah lelang pada 2022 dengan harga mencapai £7,1 juta, mencatatkan rekor dunia sebagai memorabilia olahraga termahal sepanjang masa.
Dampak dan Warisan Gol Tangan Tuhan
Pengaruh dari insiden The Hand of God ternyata melampaui lapangan hijau hingga ke ranah budaya pop. Istilah ini terus digunakan di berbagai penjuru dunia, bahkan menjadi inspirasi bagi sutradara Paolo Sorrentino dalam drama semi-otobiografinya pada 2021 yang berjudul serupa, menggambarkan pengaruh besar Maradona di Naples pada tahun 1980-an.
Bagi masyarakat Argentina, insiden ini sering dikaitkan dengan konsep "viveza criolla" atau kecerdikan penduduk asli, yang membenarkan cara apa pun demi meraih kesuksesan. Tindakan Maradona dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap sejarah kelam hubungan diplomatik antara Argentina dan Inggris, termasuk konflik terkait kedaulatan Kepulauan Falkland atau Las Malvinas.
Tidak hanya kostum, bola yang digunakan saat gol "tangan Tuhan" tercipta kini pun menjadi incaran para kolektor. Benda bersejarah tersebut bahkan sempat dijadwalkan untuk dilelang di Heritage Auctions dengan estimasi nilai yang fantastis, menegaskan betapa besar nilai historis dari satu momen yang terjadi dalam sekejap di Estadio Azteca tersebut.
Hingga saat ini, perdebatan mengenai sportifitas gol tersebut tetap berlangsung. Peter Shilton secara terbuka menyatakan tidak pernah memaafkan Maradona atas tindakannya. Namun, di sisi lain, kejadian itu tetap menjadi bukti otentik betapa magis sekaligus kontroversialnya sosok Diego Maradona dalam membangun kejayaan Argentina di panggung Piala Dunia.